Kenali Bronkitis Dan Pencegahannya

134 views
loading...

BRONKITIS ( bronchitis ) yaitu peradangan (inflamasi) pada selaput lendir (mukosa) bronchus atau saluran pernafasan dari trachea hingga saluran napas di dalam paru-paru. Peradangan ini mengakibatkan permukaan bronchus membengkak (menebal) sehingga saluran pernapasan relatif menyempit.

Bronkitis terbagi atas 2 jenis, yakni: bronkitis akutdanbronkitis kronis. Di Indonesia insiden bronkitis akut mencapai sekitar 4,5% populasi. Frekuensi bronkitis akut meningkat pada kondisi seperti status ekonomi rendah, kawasan industri, laki-laki lebih banyak dari perempuan, anak-anak biasa di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 60 tahun.

Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga dua minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama seandainya disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan.

Penyebab tersering Bronkitis akut adalah virus, yakni virus influenza, Rhinovirus, Adenivirus, dan lain-lain. Sebagian kecil disebabkan oleh bakteri (kuman), terutama Mycoplasma pnemoniae, Clamydia pnemoniae, dan jamur.

Keluhan atau gejala klinis yg biasa dialami penderita bronkitis akut, meliputi batuk (berdahak ataupun tak berdahak), demam subfebris (biasanya ringan), rasa berat dan tak nyaman di dada, sesak napas, rasa berat bernapas, dan tidak jarang batuk darah.

Pemeriksaan fisik pada pemeriksaan memakai stetoskop (auskultasi), terdengar ronki basah kasar, dan wheezing. Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan dahak maupun rontgen dikerjakan buat menolong menegakkan diagnosa dan buat menyingkirkan diagnosa penyakit lain.
Pemeriksaan lab yg dikerjakan seperti seperti laboratorium rutin darah dan pemeriksaan sputum. Sedangkan pemeriksaan foto toraks umumnya tak ada infiltrat dan ada peningkatan bronchovascular pattern.

Sebagian besar pengobatan bronkitis akut bersifat simptomatis (meredakan keluhan). Obat-obat yg lazim digunakan, yakni:

1. Ekspektorant: adalah obat batuk pengencer dahak agar dahak gampang dikeluarkan sehingga napas menjadi lega. Ekspektorant yg lazim digunakan diantaranya: GG (glyceryl guaiacolate), bromhexine, ambroxol, dan lain-lain.

2. Antipiretik (pereda panas): parasetamol (asetaminofen), dan sejenisnya., digunakan seandainya penderita demam.

3. Bronkodilator (melongarkan napas), diantaranya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita yg disertai sesak napas atau rasa berat bernapas. Penderita hendaknya memahami bahwa bronkodilator tak cuma buat obat asma, tetapi bisa juga digunakan buat melonggarkan napas pada bronkitis. Selain itu, penderita hendaknya mengetahui efek samping obat bronkodilator yg mungkin dialami oleh penderita, yakni: berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin. Andaikata mengalami efek samping tersebut, maka dosis obat diturunkan menjadi setengahnya. Jika masih berdebar, hendaknya memberitahu dokter agar diberikan obat bronkodilator macam lain.

4. Antibiotika. Hanya digunakan seandainya dijumpai tanda-tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan dokter.

Bronkitis kronis berlangsung lebih dari enam minggu. Secara umum keluhan pada Bronkitis kronis dan Bronkitis akut hampir sama. Hanya saja keluhan pada Bronkitis kronis cenderung lebih berat dan lebih lama. Hal ini dikarenakan pada Bronkitis kronis terjadi penebalan (hipertrofi) otot-otot polos dan kelenjar serta berbagai perubahan pada saluran pernapasan. Secara klinis, Bronkitis kronis yaitu penyakit saluran pernapasan yg ditandai dengan batuk berdahak sedikitnya 3 bulan dalam setahun selama 2 tahun berturut-turut.

Di Indonesia, belum ada angka kesakitan Bronkitis kronis, kecuali di rumah sakit sentra-sentra pendidikan. Sebagai perbandingan, di AS (National Center for Health Statistics) diperkirakan sekitar 4% dari populasi didiagnosa sebagai Bronkitis kronis.

Angka inipun diduga masih di bawah angka kesakitan yg sebenarnya (underestimate) dikarenakan tak terdiagnosanya Bronkitis kronis. Di sisi yang lain mampu terjadi pula overdiagnosis Bronkitis kronis pada pasien-pasien dengan batuk non spesifik yg self-limited (sembuh sendiri).

Bronkitis kronis mampu dialami oleh seluruh ras tanpa ada perbedaan. Frekuensi angka kesakitan Bronkitis kronis lebih kerap terjadi pada pria dibanding wanita. Hanya saja hingga kini belum ada angka perbandingan yg pasti. Usia penderita Bronkitis kronis lebih kadang dijumpai di atas 50 tahun.

Faktor-fakor penyebab tersering pada Bronkitis kronis adalah asap rokok (tembakau), debu dan asap industri, serta polusi udara. Disebutkan pula bahwa Bronkitis kronis bisa dipicu oleh paparan berbagai jenis polusi industri dan tambang, di antaranya: batubara, fiber, gas, asap las, semen, dan lain-lain.

Keluhan dan gejala-gejala klinis Bronkitis kronis di antaranya, batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yg banyak. Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan akut (eksaserbasi). Kadang bisa dijumpai batuk darah.

Keluhan lainnya yakni sesak napas progresif (makin berat) ketika beraktifitas, adakalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik) dan pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara krok-krok terutama ketika inspirasi (menarik napas) yg menggambarkan adanya dahak di saluran napas.

Secara klinis, Bronkitis kronis terbagi menjadi tiga jenis, yakni:

  1. Bronkitis kronis ringan (simple chronic bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak dan keluhan yang lain yg ringan.
  2. Bronkitis kronis mukopurulen (chronic mucupurulent bronchitis), ditandai dengan batuk berdahak kental, purulen (berwarna kekuningan).
  3. Bronkitis kronis dengan penyempitan saluran napas (chronic bronchitis with obstruction), ditandai dengan batuk berdahak yg disertai dengan sesak napas berat dan suara mengi.

Untuk membedakan ketiganya didasarkan pada riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis disertai pemeriksaan penunjang,yakni radiologi (rontgen), faal paru, EKG, analisa gas darah.

Penatalaksanaan Bronkitis kronis dikerjakan secara berkesinambungan buat mencegah timbulnya penyulit, meliputi edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita bagi mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan Bronkitis kronis. Sedapat mungkin menghindari paparan faktor-faktor pencetus serta rehabilitasi medik bagi mengoptimalkan fungsi pernapasan dan mencegah kekambuhan, di antaranya dengan olah raga seuai usia dan kemampuan, istirahat dalam jumlah yg cukup, makan makanan bergizi.

Tindakan lainnya adalah Oksigenasi atau terapi oksigen, obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak gampang dikeluarkan. Juga antibiotic yg digunakan manakala penderita Bronkitis kronis mengalami eksaserbasi oleh infeksi kuman (H influenzae, S pneumoniae, M catarrhalis). Pemilihan macam antibiotika (pilihan pertama, kedua dan seterusnya) dikerjakan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.

* Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (di bawah bimbingan dr. Reza Aditya Digambiro, M.Kes, M.Ked (PA), Sp.PA).

Sumber: http://gayahidup.inilah.com
Sekian Tentang : Kenali Bronkitis dan Pencegahannya. Semoga bermanfaat dan jangan lupa kunjungi www.lovlar.com

YUK Baca berita seputar POLITIK, Ekonomi dan Sport di sini www.newsviralnet.com'
Buat Pebisnis Silahkan anda bisa merasakan Sukses Bersama Kami Mari Menjadi Investor Produk-Produk kami Kontak WA: 085234272344

Download

(Visited 31 times, 1 visits today)